Pisau Diplomasi itu Bernama Kuliner
JAKARTA-MAPNEWS. Indonesia kaya akan budaya. Dengan budaya, kita bisa berdiplomasi dengan negara lain baik untuk memperkenalkan bangsa kita, mengangkat perekonomian, memuluskan suatu tujuan politik, dan lain sebagainya. MenurutDirektur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Firmansyah Rahim, salah satu buah budaya Indonesia yang mampu menjadi alat diplomasi adalah kuliner.
"Dari sisi ekonomi kreatif, kuliner itu punya sisi kreatifitas yang tinggi. Oleh karena itu, kami amat sangat mendukung pengembangan kuliner, supaya dapat dikenal di luar negeri," katanya saat membuka Interfood Indonesia 2013 di JIExpo Jakarta, Rabu (28/8/2013).
Menurut Firmansyah, Indonesia memiliki lebih dari 5.000 sesep kuliner. Namun, tidak semuanya dapat dipromosikan dan dipasarkan keluar negeri. Karena hal tersebut terkait dengan selera pasar, apa yang kita rasakan enak belum tentu cocok dengan lidah orang luar negeri.
Itulah mengapa pihaknya telah menggodok 30 kuliner nusantara untuk dijadikan ikon di pasar internasional. Makanan tersebut adalah: Sate Maranggi Purwakarta, Klappertaart Manado, Tahu Telur Surabaya, Sate Lilit Bali, Rendang Padang, Orak-Arik Buncis Solo, Pindang Patin Palembang, Nasi Liwet Solo, Es Bir Pletok Jakarta, Kolak Pisang Ubi Bandung, Ayam Goreng Lengkuas Bandung, Laksa Bogor, Kunyit Asam Solo, dan Asam Padeh Tongkol Padang.
Ada juga Nasi Tumpeng, Ayam Panggang Bumbu Rujak Yogyakarta, Gado-Gado Jakarta, Nasi Goreng Kampung, Serabi Bandung, Sarikayo Minangkabau, Es Dawet Ayu Banjarnegara, Urap Sayuran Yogyakarta, Sayur Nangka Kapau, Lumpia Semarang, Nagasari Yogyakarta, Kue Lumpur Jakarta, Soto Ayam Lamongan, Rawon Surabaya, Asinan Jakarta, dan Sate Ayam Madura.
Bagaimana cara menentukan ikon kuliner tersebut? "Sarat utamanya ya harus masakan tradisional Indonesia. Diwariskan turun-temurun sampai sekarang," tegas Firmansyah.
Syarat lainnya seperti bahan baku mudah diperoleh baik di dalam maupun luar negeri, dikenal oleh masyarakat luas secara nasional (populer), dilengkapi dengan kandungan nutrisi, dan memiliki sejarahnya.
Warisan kuliner tersebut sudah mulai diperkenalkan dalam berbagai kesempatan. "Misalnya kami cobakan saat acara diaspora, dinner peringatan 17 Agustus kemarin dengan Presiden, dan nanti pada acara APEC di Bali," papar Firmansyah.
Begitu strategisnya kuliner dalam bicara memperkenalkan budaya Indonesia di tingkat dunia, maka Firmansyah mengharapkan Interfood Indonesia yang ke-13 ini dapat lebih mempromosikan kuliner nasional di hadapan banyak warga negara asing.
Menurut penuturan Direktur Utama PT Kristamedia Pratama, Daud D Salim, selaku penyelenggara, acara ini memang melibatkan banyak orang luar negeri. Ia pun sependapat dengan Firmansyah bahwa Interfood Indonesia 2013 mampu memperkenankan produk-produk andalan dari Indonesia yang lahir dari sebuah budaya yang hebat. "Ada hampir 500 perusahaan dari 19 negara yang terlibat di sini. Dengan demikian, Indonesia mendapat kunjungan rutin dari wisatawan mancanegara."
Selain pameran, Interfood Indonesia 2013 juga menjadi ajang kursus memasak dan membuat berbagai kue, kompetisi barista, dan ada pula teknologi pangan terkini yang dapat memperluas bisnis kuliner di Indonesia. (ONE)



Pengunjung hari ini
Total pengunjung
Pengunjung Online 