Hatta: Perkebunan Bernilai Strategis Selamatkan Ekonomi Indonesia
JAKARTA-MAPNEWS. Indonesia kembali mengalami krisis ekonomi yang berpotensi menggoyang perekonomian nasional. Untuk mengatasinya, salah satu sub sektor yang sangat strategis untuk memulihkan perekonomian adalah perkebunan.
"Subsektor perkebunan sejalan dengan paket kebijakan penyelamatan ekonomi Indonesia. Yakni menggenjot pengembangan industri bahan bakar nabati untuk mengurangi impor BBM," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa saat membuka Expo Nasional Inovasi Perkebunan 2013 di JCC, Jakarta, Jumat (30/8/2013).
Paket kebijakan ekonomi itu adalah mengurangi impor BBM khususnya solar sebanyak 10 persen. Sebagai gantinya, Pemerintah akan mencampur solar impor dengan biodiesel dari Indonesia. Biodiesel diambil dari turunan produk CPO (crude palm oil) di mana Indonesia adalah penghasil CPO terbesar di dunia. Pemerintah pun berjanji akan konsisten untuk menggunakan biodiesel. "10 persen itu nilainya 3,5 juta liter jadi cukup besar. Ini (paket) sifatnya mandatory, artinya wajib!"
Pada kesempatan tersebut, Hatta juga menyampaikan tiga pesan penting yang menjadi kunci pengembangan sub sektor perkebunan Indonesia ke depan. Pertama, ia meminta agar dunia perkebunan tidak mengendurkan semangat menumbuhkan kemandirian pangan karena hal ini sangat vital.
"Kita sudah merasakan kekurangan suplai membuat ketergantungan impor dan instabilitas akan menimbulkan inflasi. Maka curahkan betul perhatian kepada kemandirian pangan."
Kedua, meminta perkebunan menjadi salah satu pilar utama pembangunan berbasis lingkungan (green economy). "Tentunya peningkatan produktifitas dan pembangunan berkelanjutan harus sinergi dengan green economy."
Ketiga, berharap supaya konflik yang terjadi di sub sektor perkebunan dapat diminimalisir serta mewujudkan sinergi antara perkebunan besar, perkebunan rakyat, dan masyarakat. "Ini penting dalam situasi ini agar kita menjaga iklim usaha kondusif. Saya yakin Indonesia sebagai sumber pangan dunia akan dapat kita capai," tutur Hatta.
Lebih lanjut Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Rusman Heriawan yang hadir mendampingi Hatta mengatakan, paket kebijakan perekonomian yang telah dikeluarkan pemerintah merupakan sinyal momentum positif yang bisa diberdayakan optimal oleh pelaku sektor usaha perkebunan. "Pengurangan impor BBM menjadi momentum bagi pelaku perkebunan untuk berinovasi."
Inovasi tersebut antara lain adalah peluang untuk mengembangkan sumber alternatif bahan bakar nabati (BBN) seperti terkait aturan yang akan meningkatkan peningkatan kandungan biodiesel. Lebih dari itu, Rusman berharap para pelaku industri di bidang perkebunan tidak hanya mengekspor bahan mentah tetapi juga barang jadi yang menjadi turunan produk perkebunan. Sehingga memberikan nilai tambah yang tinggi.
Penyelenggaraan ENIP yang bertema “Perkebunan Sebagai Pilar Strategi Green Economy Nasional” berlangsung pada tanggal 30 Agustus – 1 September 2013. Tujuannya adalah antara lain mewujudkan green economy yang berkelanjutan dan mensinergikan operasional pengembangan agribisnis, ajang penyebaran produk.
ENIP juga diharapkan dapat menjadi ajang penyebaran pengembangan produk terkait perkebunan, mengembangkan jejaring kerja sama agribisnis perkebunan nasional, dan menumbuhkan minat generasi muda. (ONE)




Pengunjung hari ini
Total pengunjung
Pengunjung Online 